“Akhir.a ku temukan sahabat sejatiku. Jen, Sophie, Ristya, Rian, Aris, Trias, Reza, Rinto, Elfan. Maafkan sikapku yang telah merepotkan kalian.”
Status facebook Runa tepat dibacanya malam itu. Mention Runa ke akunnya menambah daftar notifikasi pada facebooknya. Terbersit segaris senyum di bibirnya. Dan kini, ia menyadari sesuatu. Suatu hal yang telah didapatkannya selama menjejakkan minatnya di dunia “kuli tinta” itu.
Tak ingin ia mengomentari status itu. Ia biarkan teman-temannya yang lain untuk saling bersahut-sahutan di jejaring dunia maya itu. Komentar-komentar dari mereka menandakan sebuah keakraban yang tak ternilai harganya. Kelak, hal itu akan menjadi “pemanis” di kala mereka berpisah.
Mungkin bagi sebagian orang, status itu hanyalah selintas angin lalu. Perkataan yang dianggap sebagai akibat dari kebanyakan menonton televisi, khususnya kisah-kisah remaja. Akan tetapi, baru kali ini ia merasa janggal dengan perasaannya sendiri. Cinta? Bukan! Justru perasaan ini datangnya dari kebersamaan yang ia bangun bersama teman-temannya selama setahun lebih. Sebuah persahabatan. Sebuah kebersamaan.
Kembali ia bersantai dengan klik sana-klik sini akun facebooknya. Sebuah status baru muncul di berandanya. Aris.
“Jadi orang, kok lebay begitu?” pasangnya pada kolom komentar status itu.
Tak berapa lama, muncul balasan seperti biasanya.
“Kau kenapa?”
Ia hanya tersenyum menanggapinya. Tak perlu ia ketikkan tanda smiley pada komentarnya, tentu temannya yang satu itu sudah tahu bahwa ia sedang tersenyum. Apalagi, ia sudah terbiasa mendengar seperti itu jika sedang bersama di redaksi.
Rinto sedikit banyak tahu pribadi masing-masing sahabatnya. Kebersamaan mereka di redaksi telah memberikan cukup gambaran. Terlebih pada Aris yang merupakan rivalnya semenjak aktif di lembaga itu. Keduanya seakan bersaing untuk menjadi yang terbaik, meskipun terkadang Rinto sadar bahwa pengalaman berorganisasi Aris jauh lebih baik ketimbang dirinya. Akan tetapi, perihal tulisan, Rinto tak mau kalah.
Sebenarnya, bukan hanya Rinto saja yang memiliki kesan mendalam terhadap lembaga jurnalistik yang kini menaunginya. Aris pun demikian.
“Rinto, kamu yakin akan tetap bertahan?” tanya Aris pada Rinto.
“Iya, dong. Lagipula lembaga ini telah banyak memberiku hal-hal yang selama ini tidak aku bayangkan,” jawab Rinto sungguh-sungguh.
“Kalau kamu sendiri?” Rinto balik bertanya.
“Sama dengan kamu. Pokoknya aku akan terus bertahan sampai terakhir. Aku tidak akan pernah mundur sampai aku sendiri yang dipecat,” ujarnya berapi-api.
Semangat. Itulah yang Rinto temukan dalam diri salah satu sahabatnya. Entah dorongan apa yang selalu membuatnya bersemangat untuk menyelesaikan tugas liputannya. Jika dihitung-hitung, memang liputan Aris lah yang paling mendominasi dalam setiap tugas kejurnalistikan yang diemban.
Tak pernah sekalipun ia berpikir sejauh ini. Selama ini, Rinto hanya menganggap teman-temannya sebagai rekan dalam lembaga itu. Kedekatan yang terjalin diantara mereka hanya sebatas “sering ketemu” di redaksi dan kerja sama antar pengurus.
Semuanya terasa berbeda ketika mulai terjalin kedekatan satu sama lain. Kebersamaan dalam segala hal. Baik suka, maupun duka. Suka ketika menghabiskan waktu bersama-sama, saling menagih waktu ulang tahun masing-masing. Dan duka ketika didamprat cercaan sekaligus omelan senior-senior pendamping lembaga ketika melakukan kesalahan. Akan tetapi, di balik itu semua, adalah pembelajaran yang senantiasa terjadi. Tanpa disadari, itu pula yang menjalin benang merah diantara mereka.
Jauh hari sebelumnya, ia pun pernah mendapati status facebook Ristya,
“Tmn2. Sophie, Runa, Jen, Rinto, Rian, Reza, Aris, Trias, Elfan, Klian dimana semuanya? Cepatlah kembali disini. Sepi bgt disini,”
Mention ke beberapa nama itu pun tak pelak meramaikan komentar di bawahnya.
Ia ingat, waktu itu musimnya mereka mudik ke kampung masing-masing untuk berlebaran haji bersama keluarga. Tidak terkecuali Ristya, meskipun kampungnya hanya berjarak beberapa kilometer dari kota Makassar dan bisa ditempuh dengan angkutan kota.
Baginya, setelah merasakan kebersamaan diantara mereka, pernyataan-pernyataan yang memenuhi wall facebook
teman-temannya itu merupakan sebuah pertanda jalinan persahabatan yang begitu erat diantara mereka. Rinto sendiri merasakan hal itu. Bahkan, ia terkadang merasa lebih dekat dengan teman-temannya di lembaga jurnalistik itu dibandingkan dengan teman-teman sejurusannya. Padahal, Rinto dan teman-temannya yang bergabung di organisasi “kuli tinta” itu berasal dari jurusan yang berbeda-beda.
Rinto menyudahi facebooknya. Ia harus kembali fokus untuk menyelesaikan tugas mata kuliahnya. Sudah beberapa kali ia telat mengumpulkan tugasnya, hanya gara-gara ia terlarut dalam suasana redaksinya. Yah, suasana disana begitu menenteramkan. Pikirnya.
Sudah hampir tengah malam, dan ia sedikit lagi harus menyelesaikan bagian akhir tugasnya. Makalahnya harus selesai dan disetorkan esok hari. Jika tidak, maka lagi-lagi ia harus menunda salah satu nilai mata kuliahnya.
Kehidupan sebagai seorang mahasiswa membuatnya harus selalu berhadapan dengan makalah. Makalah, laporan, paper, proposal, dan tetek bengek lainnya sudah membiasakannya untuk begadang hingga dini hari. Tak jarang, ia harus menghabiskan waktunya semalaman tanpa tidur sedikitpun.
Kenapa juga kita sering-sering disuruh buat makalah? Pikirnya.
Ia menganggap, kebanyakan makalah hanya akan menumbuhkan bibit-bibit copy-paste pada diri mahasiswa. Lihat saja, ketika seorang mahasiswa diminta membuat makalah dan sejenisnya, maka referensi paling utama selalu mengandalkan Om Google. Selanjutnya, tinggal melakukan proses copy-paste dengan sedikit permak pada redaksi katanya. Sehingga, sempat terlintas dalam benak Rinto, jangan-jangan pelajaran paling dasar dari sebuah komputer adalah copy-paste.
Mungkin saja, jika diadakan survei, 99% mahasiswa tahu bagaimana cara copy-paste, sekaligus dengan shortcutnya, Ctrl+C, Ctrl+V.
“Sedikit lagi,” gumamnya.
Sedari tadi ia tampak serius mengetik di depan komputernya. Kursor di depan layarnya pun bergantian membuka beberapa jendela aplikasi.
Beberapa saat, ia merasakan handphonenya bergetar, kemudian melantunkan sebuah nada polyponik. Ia membaca sebuah sms yang masuk ke inboxnya.
“Rinto, dmna skg? Ay rame2 sm ank2 k Coda. Elfan ktx yg traktir,” sms dari Sophie.
Usai membaca pesan singkat itu, Rinto tampak menimbang-nimbang sesuatu. Antara menyelesaikan tugas kuliahnya yang tinggal sedikit lagi, atau memenuhi ajakan pesan singkat yang baru dibacanya. Karena ia pun baru ingat, ternyata hari ini adalah ulang tahun Elfan. Dan sudah menjadi tradisi (yang dibuat-buat) bagi yang ultah untuk mentraktir teman-teman redaksi yang lainnya. Hm, sebuah wujud jalinan persahabatan.
Ia putuskan untuk menyelesaikan tugas kuliahnya saat ini dan melanjutkannya sepulang dari mengisi perutnya dengan Coto khas Makassar itu. Santai dulu, lah. Pikirnya. Setelah mematikan komputernya, ia kemudian mengirimkan pesan balasan,
“Tg2u ya.. :)”
Status: delivered.